Minggu, 26 OKTOBER 2025 • 23:45 WIB

Santet: Antara Budaya, Agama, dan Etika Masyarakat Indonesia

Author

Santet: Antara Budaya, Agama, dan Etika Masyarakat Indonesia

Santet masih dipercaya sebagai fenomena budaya di berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Persoalan ini menimbulkan beragam interpretasi yang mempengaruhi cara orang berpikir dan bersikap.

Baca juga: Kasus Tragis Pengemudi Ojek Online Dilibatkan Oknum Brimob Masuk Jalur Pidana

Di satu sisi, beberapa ajaran agama mengutuk praktik ini, sementara di sisi lain, banyak yang melihat santet sebagai cara menyelesaikan konflik. Ini membentuk sebuah perdebatan menarik dalam konteks sosial dan kultural.

Definisi dan Asal Usul Santet

Santet adalah praktik mistis yang mengaitkan pengiriman energi negatif untuk menyakiti orang lain. Asal-usul santet berakar dari tradisi dan sejarah panjang yang mencakup berbagai kepercayaan masyarakat di Indonesia.

Berdasarkan beberapa penelitian, santet dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal, di mana penggunanya berusaha mengatasi konflik atau masalah pribadi. Namun, definisi ini dapat bervariasi tergantung pada konteks budaya masing-masing daerah.

Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman

Pandangan Agama Terhadap Santet

Dalam banyak ajaran agama di Indonesia, praktik santet dianggap salah dan dilarang. Misalnya, dalam Islam, santet dikategorikan sebagai bagian dari sihir yang dapat mengundang murka Tuhan.

Namun, ada interpretasi yang lebih kompleks terkait keberadaan sihir dalam teks-teks keagamaan. Beberapa pihak berpendapat bahwa niat di balik tindakan tersebut menentukan apakah itu dapat dibenarkan atau tidak.

Etika Masyarakat dan Respon Terhadap Santet

Masyarakat memiliki beragam reaksi terhadap santet, mulai dari penolakan hingga penerimaan sebagai bagian dari tradisi. Dalam konteks ini, etika kolektif sering kali dipengaruhi oleh kesepakatan sosial dan norma budaya yang berlaku.

Di sejumlah komunitas, ada kepercayaan bahwa santet merupakan tindakan sah untuk mempertahankan diri, terutama dalam situasi konflik yang intens. Ini menciptakan dilema etis di mana masyarakat harus menilai kembali nilai-nilai moral yang mereka pegang.

Baca juga: Mengenal Finfluencer: Solusi Cerdas untuk Memahami Keuangan di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU