Minggu, 22 FEBRUARI 2026 • 20:40 WIB

Ketika Positif Bisa Menjadi Berbahaya: Memahami Toxic Positivity

Author

Ketika Positif Bisa Menjadi Berbahaya: Memahami Toxic Positivity

Toxic positivity muncul ketika orang mengabaikan emosi negatif dan hanya fokus pada sisi positif, meskipun situasinya tidak mendukung. Sikap ini bisa sangat berbahaya bagi kesehatan mental seseorang.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Banyak yang tidak sadar bahwa menolak untuk menghadapi emosi mendasar seperti kesedihan atau kecemasan justru dapat memperburuk keadaan. Kekhawatiran ini semakin mengemuka akibat tren di media sosial yang lebih menekankan pada optimisme.

Pengertian Toxic Positivity

Toxic positivity merujuk pada sikap yang mengharuskan seseorang untuk selalu terlihat positif dan mengabaikan emosi negatif. Istilah ini seringkali muncul melalui ungkapan seperti 'tetap positif' atau 'selalu bersyukur', yang tidak menggambarkan permulaan yang dihadapi individu.

Penasaran dengan fenomena ini, banyak orang mulai berbagi kutipan motivasi di platform media sosial. Namun, bagi yang sedang berjuang dengan kesedihan, hal ini bisa menciptakan tekanan untuk merasa tidak berharga.

Hal ini bisa menciptakan laguna dalam interaksi sosial yang seharusnya lebih mendukung, membuat individu merasa terasing ketika sebenarnya mereka hanya ingin didengar.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Rekor Baru Liverpool dan Pergerakan Tim Lain

Dampak Negatif dari Toxic Positivity

Toxic positivity dapat menyebabkan individu merasa tidak didengar dan terasing dari orang-orang di sekitarnya. Dalam momen-momen sulit, mereka yang mendapati diri mereka terjebak dalam perilaku ini mungkin merasa terpaksa untuk menyembunyikan emosi mereka.

Dampak lainnya adalah bahwa perilaku ini bisa menurunkan kualitas dukungan yang diberikan kepada teman atau kerabat yang sedang berjuang. Seringkali, mereka yang mendorong optimisme tidak menyadari bahwa hal ini bisa membentu orang lain merasa lebih buruk.

Dengan kecenderungan untuk menghindari pembicaraan tentang emosi yang sukar, akan sulit bagi individu untuk benar-benar terhubung dengan satu sama lain, yang pada akhirnya memperburuk isolasi emosional.

Menyeimbangkan Positif dan Negatif

Mengetahui kapan harus berfokus pada sikap positif dan kapan harus menerima emosi negatif adalah penting. Menerima kenyataan bahwa sebuah situasi bisa sulit bukanlah suatu tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kedewasaan.

Memahami dan menerima emosi-emosi ini dapat membantu kita memprosesnya dengan cara yang lebih sehat. Salah satu caranya adalah dengan berbagi pengalaman dan mendengarkan cerita orang-orang di sekitar kita tanpa menjatuhkan penilaian.

Keseimbangan dalam emosi ini tidak hanya membantu individu meraih kesehatan mental yang baik, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang lebih mendukung.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU