Fenomena blue matcha kini tengah menarik perhatian publik, menjadi minuman pilihan bagi mereka yang peduli terhadap kesehatan. Meskipun menawarkan tampilan menarik, penting untuk mengevaluasi manfaat dan risikonya terhadap kesehatan, terutama bagi penderita diabetes.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Perbedaan mendasar antara blue matcha dan matcha hijau harus dipahami agar keputusan konsumsi tidak didasarkan pada ilusif 'sehat'. Dengan mengenal kandungan dan dampaknya, kita bisa lebih bijak dalam memilah pilihan minuman yang sesuai.
Perbedaan Antara Blue Matcha dan Matcha Hijau
Kedua jenis matcha ini memiliki bentuk bubuk dan dapat disajikan dalam berbagai cara, baik panas maupun dingin. Perbedaan utama terletak pada bahan dasar; matcha hijau terbuat dari daun teh hijau yang digiling halus, sedangkan blue matcha berasal dari bunga telang yang telah dikeringkan.
Matcha hijau mengandung kafein dan sejumlah nutrisi, termasuk katekin, seperti epigallocatechin gallate (EGCG), yang dapat berkontribusi positif terhadap metabolisme dan sensitivitas insulin. Menurut sebuah meta-analisis dalam The American Journal of Clinical Nutrition, katekin memiliki peranan untuk membantu mengontrol kadar glukosa darah, meski dampaknya bersifat moderat.
Sebaliknya, blue matcha tidak mengandung kafein dan tidak memiliki kandungan aktif yang sama dengan matcha hijau, sehingga dampaknya pada regulasi gula darah mungkin tidak sekuat matcha hijau. Meskipun bunga telang mengandung antioksidan, bukti mengenai manfaatnya untuk pengendalian gula darah masih terbatas.
Baca juga: Kunto Aji Kritik Status Selebriti di DPR: Semua Harus Akuntabel
Efek Konsumsi Terhadap Kadar Gula Darah
Kedua jenis matcha ini tergolong rendah kalori dan tidak mengandung gula alami dalam jumlah yang signifikan. Namun, ketika keduanya dikonsumsi dalam format minuman sehari-hari, sering kali ditambahkan gula, sirup, atau bahan lainnya yang dapat berdampak negatif terhadap kadar gula darah.
Beberapa studi menunjukkan bahwa gula tambahan dalam bentuk cair, seperti yang biasa terdapat pada minuman siap saji, cenderung diserap lebih cepat dan dapat memicu lonjakan gula darah. Dengan demikian, baik matcha hijau maupun blue matcha yang disajikan sebagai latte bisa memiliki kadar gula yang lebih tinggi dibandingkan minuman manis yang dihindari oleh penderita diabetes.
Walaupun blue matcha dianggap lebih aman karena bebas kafein, perhatian harus diberikan kepada kenyataan bahwa ia sering disajikan dengan pemanis. Asupan gula berlebih dapat memicu lonjakan glukosa yang sering kali tidak disadari oleh konsumen.
Persepsi Tentang Label 'Sehat'
Istilah 'minuman sehat' seringkali menciptakan persepsi positif di kalangan konsumen. Dengan warna hijau matcha dan biru blue matcha, banyak orang beranggapan bahwa kedua minuman ini aman untuk diabetes tanpa memeriksa kandungan gula yang mungkin ada.
Penelitian mengenai 'health halo effect' menyoroti bahwa persepsi terhadap kesehatan bisa mendorong individu untuk mengonsumsi lebih banyak, terlepas dari dosis gula yang terdapat di dalamnya. Dalam pengelolaan diabetes, kesalahpahaman terhadap keamanan ini dapat menyebabkan peningkatan asupan gula yang tanpa disadari.
Maka dari itu, bagi individu dengan risiko diabetes, yang lebih penting adalah mempertimbangkan kandungan gula dalam minuman, bukan hanya warna atau label yang tertera. Baik blue matcha maupun matcha hijau dapat dianggap relatif aman jika disajikan tanpa bahan pemanis.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Temui Pimpinan Serikat Pekerja: Diskusi Aksi Buruh dan RUU Perampasan Aset
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: