Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang dikenal sebagai 'the silent disease' karena proses pengeroposan tulangnya terjadi perlahan tanpa gejala yang jelas di awal. Meskipun bisa terjadi di setiap orang, efek terburuknya terlihat pada orang yang kurang aktif secara fisik.
Baca juga: Manchester United Rekrut Kiper Senne Lammens di Detik Terakhir Bursa Transfer
Penyakit ini dapat meningkatkan risiko patah tulang saat cedera, sehingga penting untuk memahami penyebab, faktor risiko, dan dampaknya bagi kesehatan tulang secara menyeluruh.
Penyebab Osteoporosis
Penyebab osteoporosis tidak terbatas pada kurangnya konsumsi susu, melainkan melibatkan berbagai faktor. Dr. Daniel Petrus Marpaung, SpOT (K) dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, menjelaskan bahwa 'Wanita mulai mengalami yang namanya menopause. Karena hormon estrogennya yang rendah, maka wanita akan mengalami penurunan kepadatan tulang.'
Proses pengeroposan tulang ini biasanya dimulai saat seseorang mencapai usia sekitar 40 tahun, dan mulai terlihat lebih jelas setelah usia 48-50 tahun. Meskipun lebih umum terjadi pada wanita, pria juga berisiko mengalami hal yang sama, meski dengan laju yang lebih lambat.
Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu penyebab yang dikenal sebagai disuse osteoporosis. Dr. Daniel menggarisbawahi bahwa 'Itu namanya disuse osteoporosis. Osteoporosis karena mager.' Minat untuk bergerak yang rendah dapat mengakibatkan berkurangnya kepadatan mineral tulang.
Baca juga: Tragedi di Lima: Staf KBRI Zetro Leonardo Purba Tewas Ditembak
Faktor Risiko Osteoporosis
Orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang mengharuskan mereka berbaring terlalu lama juga berisiko mengalami osteoporosis. Dr. Daniel menjelaskan, 'Mungkin dia pernah cedera di kaki atau mengalami kelumpuhan sehingga tidak bisa melakukan aktivitas.'
Wanita yang telah memasuki usia menopause serta pria di usia yang sama lebih rentan terhadap osteoporosis. Namun, generasi muda, khususnya generasi Z yang cenderung mengurangi aktivitas fisik, juga mulai menunjukkan potensi risiko.
Kekurangan vitamin D dan kalsium juga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami osteoporosis. Vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tulang.
Dampak Osteoporosis
Meskipun osteoporosis tidak menyebabkan kematian secara langsung, dampak yang dihasilkan dari disabilitas akibat patah tulang dapat memperburuk kondisi kesehatan. Dr. Daniel menekankan, 'Misalnya terjadi patah tulang panggul, terjadi bed rest. Akibatnya pada orangtua itu kurang baik, sehingga terjadi infeksi paru, terjadi dekubitus.'
Ulkus dekubitus, yang sering terjadi pada individu yang terpaksa berbaring dalam jangka waktu lama, dapat berpotensi menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan benar. Ini menunjukkan pentingnya pencegahan dan penanganan osteoporosis untuk menjaga kualitas hidup.
Penting bagi masyarakat untuk menyadari risiko osteoporosis dan menerapkan gaya hidup sehat beserta aktivitas fisik yang cukup sebagai langkah pencegahan.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: