Selasa, 29 JULI 2025 • 04:30 WIB

Fenomena Rojali dan Rohana: Tanda Bahaya Ekonomi Kelas Menengah

Author

santaitalks.com – Fenomena belanja yang menurun di tengah ramainya pusat perbelanjaan menjadi sorotan penting di Indonesia. Istilah ‘Rojali’ dan ‘Rohana’ kini sering digunakan untuk menggambarkan masyarakat yang mengunjungi mall tanpa niat membeli.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penurunan ini mencerminkan tekanan ekonomi yang semakin meluas, terutama di kalangan kelas menengah. Daya beli yang menurun ini tidak hanya melanda masyarakat miskin, tetapi juga mulai menjangkau kalangan rentan hingga menengah.

Fenomena Rojali dan Rohana: Makna di Balik Istilah

Istilah ‘Rojali’ (Rombongan Jarang Beli) merujuk pada fenomena di mana masyarakat datang ke pusat perbelanjaan tetapi tidak melakukan pembelian. Di sisi lain, ‘Rohana’ (Rombongan Hanya Nanya) menjelaskan mereka yang hanya bertanya tentang produk tanpa niat untuk berbelanja.

Kedua istilah ini menjadi simbol dari gejala yang lebih luas terkait penurunan daya beli di kalangan masyarakat kelas menengah. Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS menyatakan, ‘fenomena ini mencerminkan perlambatan yang dialami oleh segmen masyarakat yang biasa aktif dalam perekonomian.’

Data Faktual di Balik Penurunan Konsumsi

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan penurunan drastis dalam konsumsi rumah tangga. Penurunan ini terjadi tidak hanya di kalangan masyarakat miskin, tetapi juga merambah ke kalangan rentan dan menengah.

BPS menyatakan bahwa penurunan daya beli ini merefleksikan masalah yang bukan sekadar sementara, melainkan bersifat struktural. Hal ini menunjukkan bahwa masalah daya beli berpotensi menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Rekomendasi untuk Pemerintah

Dalam menghadapi masalah ini, BPS merekomendasikan kepada pemerintah untuk meningkatkan perhatian terhadap ketahanan konsumsi rumah tangga, khususnya bagi kelas menengah ke bawah. Penanganan menyeluruh dibutuhkan guna menghindari dampak negatif yang lebih luas terhadap sektor riil dan stabilitas ekonomi.

Ketahanan ekonomi yang inklusif sangat penting untuk mengantisipasi agar penurunan daya beli tidak berimbas pada peningkatan angka pengangguran dan ketidakstabilan ekonomi secara keseluruhan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU