Ejaan Baru Nama Negara: Dampak dan Implikasi dalam Bahasa Indonesia
Pemerintah Indonesia memperbarui standardisasi ejaan beberapa nama negara, termasuk perubahan Thailand menjadi Tailan. Perubahan ini diharapkan akan memperkuat konsistensi bahasa Indonesia dan memahami nama-nama internasional dengan lebih baik.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan 17+8, Ingatkan Prabowo untuk Jalankan Janji
Pengumuman resmi mengenai perubahan ini berlangsung pada sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di New York pada akhir April 2025. Dengan adanya penyesuaian, nama-nama negara yang dimodifikasi juga akan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi mendatang.
Inisiatif untuk menstandardisasi ejaan nama negara asing dalam bahasa Indonesia dimulai sejak 2019. Dalam forum UNGEGN, delegasi Indonesia menyusun daftar nama negara dan ibu kota yang komprehensif.
Pada 2024, pemerintah melanjutkan langkah ini dengan memperbarui ejaan berdasarkan sistem ortografi dan fonologi yang lebih akurat. Hal ini bertujuan untuk menyelaraskan penulisan dengan pelafalan bahasa Indonesia, merujuk pada daftar resmi negara anggota PBB.
Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, langkah ini merupakan bagian dari tugas Badan Informasi Geospasial. BADAN berkolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri serta perguruan tinggi untuk mendukung inisiatif ini.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Emas untuk Karier
Dokumen resmi dari UNGEGN mencatat 194 nama negara yang telah disesuaikan dengan standar baru. Contoh lainnya termasuk Bangladesh yang diubah menjadi Banglades dan Swiss menjadi Swis.
Setelah disepakati di UNGEGN, perubahan tersebut akan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada edisi yang akan datang. Pembaruan ini merupakan langkah signifikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nama negara internasional.
Nama-nama negara yang diperbaharui ini tidak hanya menunjukkan ketepatan linguistik, tetapi juga mendorong penggunaan istilah yang lebih banyak dipahami masyarakat.
Perubahan ejaan nama negara membawa tujuan lebih jauh daripada sekadar konsistensi bahasa. Ini juga menjadi upaya untuk meningkatkan pemahaman linguistik yang akurat di kalangan masyarakat.
Hafidz menyatakan bahwa penyesuaian ini penting untuk menjaga keutuhan dan kelestarian bahasa Indonesia. Dengan menyelaraskan penulisan dan pelafalan, diharapkan dapat mengurangi kebingungan akibat perbedaan ejaan.
Secara keseluruhan, langkah ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk mempromosikan bahasa resmi di tingkat global sekaligus menjaga keberagaman bahasa dan budaya lokal.
Baca juga: Tips Menciptakan Kamar Kecil yang Cozy dan Nyaman
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: