santaitalks.com – Toxic positivity adalah kondisi di mana sikap selalu positif dipaksakan pada situasi yang memerlukan emosi lebih realistis. Hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, membuat individu merasa tidak diperbolehkan menunjukkan emosi negatif.
Dengan meningkatnya penggunaan istilah ini baik dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial, penting bagi masyarakat untuk memahami apa itu toxic positivity agar dapat berkomunikasi dengan lebih baik dan lebih empatik.
Secara sederhana, toxic positivity adalah sikap yang mendorong individu untuk terus bersikap positif, terlepas dari keadaan yang dihadapi. Misalnya, saat seseorang sedang mengalami kesedihan, respons yang biasanya diterima adalah, ‘Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja!’ alih-alih memberikan dukungan yang lebih sesuai dengan perasaan mereka.
Istilah ini mulai muncul dalam diskusi mengenai kesehatan mental dan sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Padahal, sikap ini dapat menimbulkan lebih banyak masalah, karena emosi negatif seperti kesedihan dan kemarahan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang penting untuk proses penyembuhan.
Salah satu dampak dari toxic positivity adalah individu merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan perasaan mereka. Rasa depresi bisa semakin meningkat ketika seseorang merasa harus menyimpan perasaan negatif demi menjaga citra positif di mata orang lain.
Dampak dari toxic positivity dapat sangat merugikan bagi kesehatan mental seseorang. Ketika individu merasa harus selalu positif, mereka dapat mengalami pengekangan emosi dan menghindari proses penyelesaian masalah yang sebenarnya.
Secara sosial, toxic positivity bisa menciptakan jarak dalam hubungan antar pribadi. Ketika satu pihak berusaha untuk ‘meringankan’ perasaan pihak lain dengan ungkapan positif, alih-alih menciptakan keakraban, hal ini justru dapat berujung pada hubungan yang tidak autentik.
Berdasarkan beberapa penelitian, individu yang lebih cenderung bereaksi dengan cara toxic positivity dapat merasa lebih cemas dan terisolasi. Hal ini membuat mereka merasa tidak dipahami, dan dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut dalam kesehatan mental mereka.
Langkah pertama untuk menghindari toxic positivity adalah dengan belajar mengenali dan menghadapi emosi negatif. Menghadapi perasaan seperti kesedihan dan kemarahan sebagai bagian alami dari hidup sangat penting.
Kedua, saat kita berusaha mendukung teman atau keluarga yang sedang mengalami masa sulit, penting untuk menggunakan pendekatan yang lebih empatik. Misalnya, mendengarkan dengan seksama tanpa memberikan saran yang terlalu positif dan membiarkan mereka berbicara tentang perasaan mereka.
Ketiga, dapat dilakukan dengan mengasosiasikan pikiran positif dengan situasi yang realistis. Mencari solusi dan cara untuk bangkit tidak harus mengesampingkan emosi negatif. Sebaliknya, penting untuk memberikan diri kita dan orang lain ruang untuk merasakan dan sembuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: